Pustaka Jam Malam
On August 9, 2017 | 0 Comments

Jam malam, suatu waktu, pukul 20.18 WIB, 13 Januari 2012, di Sawahlunto. Sawahlunto cukup tenang. Pasar malam masih buka, tetapi tidak terkesan berantakan. Cukup rapi dan terkesan sebuah kota bukan di Indonesia. Penjaja kuliner dari berbagai aksen berkumpul: aksen Jawa, Sunda, Minang. Sebuah pustaka buka di seberang jalan, sampai pukul 21.00 WIB. Tidak terlalu besar. Terletak di tengah kota. Anak-anak muda, para pelajar silir berganti memasuki pustaka.

“Buka sampai jam berapa?”

Seorang anak muda, karyawan sif malam, melayani saya. Cukup santun.

“Sampai pukul sembilan.”

“Saya pendatang baru. Ingin baca buku.” Saya memperkenalkan diri. Menunjukkan tanda pengenal. Mengatakan asal kedatangan.

“Mari saya antarkan. Mau baca apa?” Anak muda itu menawarkan diri. Dan mempersilahkan saya memasuki pustaka setelah mengisi daftar tamu.

“Tentang Sawahlunto.” Topik menarik bagi saya ketika berkunjung ke Kota Tua ini tentu saja tentang Sawahlunto. Kota Tua pusat pemerintahan Hindia-Belanda dan sekaligus penjajahan Belanda. Kota Tambang ini memang menghipnotis orang untuk berkunjung dan menikmati bekas-bekas peninggalan sejarah.

Ruang pustaka itu cukup tertata rapi. Sebelah pustaka ada labor komputer. Buku-buku tua tersusun apik. Saya menemukan begitu banyak novel. Beberapa siswa belajar. Suatu hal yang tidak pernah saya temukan sebelumnya untuk ukuran Sumbar, atau barangkali karena saya belum mengunjungi semua tempat.

Pustaka sekolah, pustaka kota, pustaka kampus, bahkan pustaka wilayah Sumbar, rata-rata buka di jam kerja. Istirahat di jam makan siang. Faktanya memang demikian. Khusus pustaka ini mempunyai jam malam, jam yang cukup asyik untuk istirahat sambil membaca buku. Suasananya juga nyaman. Jauh dari kebisingan meski letaknya di tengah kota.

Pustaka buka di jam malam, ini merupakan konsep tawaran baru bagi pengelola pustaka. Ide ini cukup kreatif bagi para pustakawan. Cukup berkebalikan dengan hal yang berlaku di pustaka-pustaka instansi pemerintah yang memberlakukan buka pustaka di jam kerja. Kalaulah pemerintah berkeinginan melakukan inovasi, konsep sif kerja akan meningkatkan kekuatan pendidikan Indonesia dengan memberlakukan pustaka malam.

Artinya pustaka hidup dua puluh empat jam. Karyawan ada yang bekerja di sif siang dan ada yang bekerja sif malam. Hal ini bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Bahkan sangat mungkin, melihat tenaga profesional perpustakaan cukup tinggi untuk ukuran Indonesia. Jumlah para pegawai negeri di Indonesia juga cukup tinggi. Tentunya konsep ini merupakan konsep yang sangat mudah dilakukan. Tinggal apakah kita mempunyai keberanian untuk mewujudkannya.

Logika pustaka jam malam sangat sederhana. Rata-rata jam kerja orang-orang Indonesia adalah pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore. Sedangkan jam belajar siswa pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang. Kemudian ditambah dengan jam belajar tambahan sekolah sampai pukul empat. Siswa yang sif siang sampai pukul 6 sore. Artinya mereka benar-benar tidak mempunyai kesempatan untuk mengunjungi pustaka. Apalagi untuk duduk berlama-lama menikmati dan berpetualang ke banyak negara melalui jendela buku. Mereka diburu dengan dedline jam kerja dan jam belajar. Kalau mereka ingin meminjam buku setelah pulang kerja dan setelah pulang sekolah, pustaka sudah tutup. Tentunya kondisi ini bukan kondisi yang bagus untuk meningkatkan minat baca para pengunjung. Hari minggu adalah hari libur mereka, tentunya mereka akan membagi waktu antara pergi liburan dan ke pustaka. Hal ini menjadi indikasi mengapa pustaka-pustaka menjadi sepi pengunjung. Kondisi ini memaksa keberadaan pustaka tidak menjadi prioritas orang-orang Indonesia.

Hal ini seperti yang diutarakan novelis Maya Lestari Gf di akun facebooknya,” Sungguh aku senang melihat banyaknya buku-buku bagus di Pustaka Daerah Sumbar. Novelnya keren-keren, mulai dari novel sastra serius, sampai sastra populer macam Harry Potter dan Twilight. Tapi… sayang disayang, kartu peminjaman buku bersih dari stempel. Apalah guna buku-buku bagus kalau tak ada yang baca.” Inilah salah satu kegelisahan pengarang perempuan nasional asal Sumatera Barat.

Pustaka adalah jendela dunia. Begitu kalimat misteri yang didengung-dengungkan di banyak tempat. Sebab itu inovasi dalam waktu buka tutup pustaka berperan penting dalam mendatangkan pengunjung.

Pemberlakukan jam malam bagi pustaka mampu meningkatkan minat baca orang Indonesia. Inovasi jam malam seperti yang dilakukan Sawahlunto merupakan inovasi yang kreatif dan patut untuk diterapkan di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Pengarang Indonesia Motinggo Boese memenuhi hari-harinya dengan membaca buku. Masa kecilnya dia isi dengan pustaka, siang dan malam. Ernest Hemingway mengisi hari-harinya dengan membaca di salah satu toko buku Syilvia Beach­­­­­—toko buku SYAKESPEARE & COMPANY yang sekarang terletak di rue de la Bucheria di Paris, Prancis. Hemingway mulai dengan karya [Ivan] Turgenev, yaitu dua volume dari koleksi cerita pendek berjudul A Sportsman’s Sketches; diikuti oleh buku karya D.H. Lawrence yang ditulis di awal kariernya, judulnya Sons and Lovers.—

Inovasi pustaka jam malam dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Strategi pertama dapat dikembangkan dengan konses kafé buku. Pustaka memiliki kafe tersendiri yang didesain dengan selera anak muda, orang dewasa, anak-anak. Kafe identik dengn selera anak muda. Kafe hampir ramai setiap malam. Mereka para pengunjung datang untuk rehat dan mencari ketenangan. Pustaka modern harusnya juga dilengkapi dengan kafe. Para pembaca dapat menikmati buku sambil menikmati menu kafe.

Kafe ini dikelola oleh para pelaku pustaka. Kafe menaikkan reputasi pustaka: meningkatkan traffic pengunjung, menaikkan income pustaka yang dapat diputarkan kembali untuk menambah koleksi buku. Konsep kafe yang dipadu dengang pustaka, Juka mencairkan suasana kekakuan yang berlaku di pustaka.

Kedua, inovasi pustaka jam malam menawarkan konsep workshop pustaka. Wokrshop-workshop pustaka ditampilkan dengan gaya moderna, memadukan antara pustaka dengan musikal: musikalisasi puisi, piano. Ada waktu-waktu tertentu di perpustakaan secara rutin dilakukan musikal. Mendatangkan para penikmat seni. Mereka biasanya yang menonton ke bioskop atau panggung teater, sekarang menonton di perpustakaan.

Ketiga, inovasi promosi pustaka jam malam. Promosi selalu menjadi bagian terpenting bagi perusahaan-perusahaan. Hal ini terkadang tidak dipakai oleh instansi pemerintah. Padahal promosi adalah upaya menaikkan traffic pengunjung. Promosi dengan brosur ke sekolah-sekolah, instansi, kampus, merupakan bagian penting dalam upaya memperkenalkan pustaka jam malam.

Keempat, konsep lesehan. Beberapa pustaka memang menyediakan konsep lesehan untuk para pembaca. Mereka duduk bersila, berselonjor, atau posisi apa pun sembari duduk. Konsep ini belum prioritas. Sebenarnya konsep ini memiliki keunggulan tersendiri bagi perpustakaan. Posisi duduk di kursi terlalu membuat badan tidak nyaman dan terkesan kaku bagi sebahagian orang. Sebab itu duduk lesehan sembari membaca merupakan solusi bagi para pembaca buku. Mereka yang ingin duduk di atas kursi dipersilahkan dan mereka yang ingin sambil duduk lesehan membaca buku juga dipersilahkan.

Mewujudkan pustaka jam malam, memerlukan kebijakan dari pemerintah. Pustaka jam malam tidak akan berpengaruh signifikan kalau hanya dilakukan oleh pelaku pustaka secara individu. Pustaka jam malam akan berpengaruh signifikan ketika diwujudkan melalui para pelaku kebijakan. Semoga demikian. [rumahkayu, 2014)

Leave a reply